Majalah Jakarta Barat- Banjir 70 sentimeter masih merendam Jalan KH Hasyim RT 007 RW 01, Kembangan Utara, Jakarta Barat, Rabu (9/7/2025) pagi. masih menyelimuti Jalan KH Hasyim RT 007 RW 01, membuat aktivitas warga lumpuh total. Air berwarna kecokelatan yang dipenuhi lumpur dan sampah menggenangi jalan serta masuk ke dalam rumah-rumah penduduk.
beberapa sepeda motor terlihat terparkir di area yang genangannya tidak terlalu dalam. Sementara itu, warga berjuang membersihkan rumah mereka dari sisa-sisa lumpur dan sampah yang terbawa arus banjir. Dua tim Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) juga diterjunkan untuk membantu pembersihan lingkungan dari tumpukan sampah yang terbawa luapan kali.
RT 007 Jadi Wilayah Terparah, Air Sempat Capai 1 Meter
RT 007 menjadi salah satu titik terdampak paling parah di Kembangan Utara. Ketinggian air sempat mencapai 1 meter pada Selasa (8/7/2025) siang, membuat banyak warga terpaksa mengungsi.
Salah seorang korban, Juanda (59), mengaku rumahnya mulai kebanjiran sejak Selasa siang. Ia bersama istri dan tiga anaknya terpaksa mengungsi ke Masjid Ghoiru Jami Nurul Muslimin Kembangan, yang kini menampung sekitar 55 pengungsi.
“Kami sekeluarga lima orang mengungsi di masjid. Alhamdulillah, saya sempat menyelamatkan barang-barang penting sebelum air naik terlalu tinggi,” ujar Juanda.
Sebagai warga yang sudah langganan banjir selama bertahun-tahun, Juanda terbiasa melakukan antisipasi dini. “Saya tidak kehilangan apa-apa karena sudah terbiasa. Ini memang rutinitas setiap musim hujan,” tambahnya.

Baca Juga: Banjir di Kolong Tol Kembangan, Lurah Imbau Pengendara Cari Jalan Alternatif
Nasib Pilu Warga yang Tak Sempat Menyelamatkan Barang
Berbeda dengan Juanda, Maslih (63) tidak sempat menyelamatkan harta bendanya. Banjir yang datang tiba-tiba membuatnya kehilangan perabotan rumah tangga, pakaian, hingga peralatan elektronik.
Ia dan keluarganya sudah dua hari mengungsi dan hanya mengandalkan bantuan nasi kotak dan air minum dari relawan. “Baju pun tidak ada ganti, jadi pakai yang ini saja. Mau jelek juga tidak apa-apa, yang penting bisa bertahan,” ujarnya dengan nada pasrah.
Selain kebutuhan dasar, Maslih berharap ada bantuan kesehatan gratis untuk memeriksa kondisi kulitnya yang mulai gatal-gatal akibat air banjir yang kotor.
Permasalahan Banjir yang Tak Kunjung Usai Sejak 2007
Maslih mengungkapkan bahwa banjir di wilayahnya sudah terjadi berulang kali sejak 2007. Ia berharap pemerintah melakukan perbaikan sistem drainase dan normalisasi kali untuk mencegah banjir di masa depan.
“Kami berharap ada kebijakan untuk membenahi kali di sini. Jangan sampai banjir terus terulang setiap tahun,” tegasnya.
Upaya Pemprov DKI dan Tantangan ke Depan
Banjir di Kembangan Utara kembali menyoroti lemahnya sistem pengelolaan air di Jakarta.
Sementara itu, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta menyatakan sedang melakukan pengerukan sungai dan pemasangan pompa air di beberapa titik rawan banjir. Namun, warga menuntut tindakan yang lebih konkret.
Banjir di Kembangan Jakarta Barat bukan hanya sekadar bencana musiman, melainkan cermin dari masalah tata kota yang belum tuntas. Warga seperti Juanda dan Maslih telah beradaptasi, tetapi mereka berhak mendapatkan lingkungan yang lebih aman.
Pemerintah perlu mempercepat normalisasi sungai, memperbaiki drainase, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Jika tidak, banjir akan terus menjadi rutinitas tahunan yang merugikan banyak pihak.

![5e3a22497156b[1]](https://noahsarkbabyshop.com/wp-content/uploads/2025/12/5e3a22497156b1-148x111.jpg)