Imbas Angke Hulu Siaga 3, 9 RT di Jakarta Barat Terendam Banjir

oleh -69 Dilihat
oleh

Imbas Angke Hulu Siaga 3, 9 RT di Jakarta Barat Terendam Banjir

Banjir Kembali Melanda Jakarta Barat: Sembilan RT Terendam Akibat Hujan Deras

Majalah Jakarta Barat – Jakarta Barat kembali dilanda banjir pada Selasa sore, 18 November 2025, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, sembilan Rukun Tetangga (RT) terdampak genangan, delapan di antaranya berada di Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, sementara satu RT lainnya berada di Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan. Tingginya curah hujan yang mencapai puluhan milimeter dalam waktu singkat menyebabkan peningkatan debit air di sungai-sungai kecil dan saluran drainase yang ada di Jakarta Barat.


Status Siaga dan Kenaikan Pos Angke Hulu

Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, curah hujan tinggi menyebabkan kenaikan debit air di Pos Angke Hulu, yang berstatus waspada atau siaga 3 sejak pukul 14.00 WIB. Status ini menunjukkan bahwa potensi genangan di wilayah hilir cukup tinggi, sehingga dibutuhkan koordinasi cepat antara instansi terkait dan masyarakat untuk meminimalisasi dampak.

“Curah hujan tinggi menyebabkan kenaikan Pos Angke Hulu sehingga berstatus siaga 3. Kami terus memonitor kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan genangan bisa segera ditangani,” ujar Yohan, dikutip dari Antara, Selasa, 18 November 2025.

Siaga 3, menurut standar BPBD, berarti seluruh personel tanggap darurat siaga penuh, termasuk mobilisasi pompa air, peralatan penyedot genangan, hingga evakuasi cepat jika diperlukan. Hal ini juga menandakan potensi banjir bisa terjadi di area rawan genangan, termasuk perumahan padat penduduk, jalan protokol, hingga fasilitas umum.


Upaya Penanganan oleh BPBD dan Instansi Terkait

Dalam penanganan genangan, BPBD DKI Jakarta segera mengerahkan personel untuk memantau kondisi di lapangan, mulai dari RT terdampak hingga akses jalan utama. Yohan menambahkan bahwa koordinasi dilakukan secara lintas instansi, termasuk:

  1. Dinas Sumber Daya Air (SDA) – untuk memastikan saluran, gorong-gorong, dan pintu air berfungsi optimal.

  2. Dinas Bina Marga – melakukan pengerukan dan perbaikan drainase serta akses jalan agar tidak terhambat genangan.

  3. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) – menyiapkan pompa penyedot air serta peralatan tanggap darurat.

  4. BPBD – memantau genangan, menyiapkan evakuasi, dan mendistribusikan bantuan dasar bila diperlukan.

Selain itu, BPBD Jakarta juga berkoordinasi dengan lurah dan camat setempat untuk menyiapkan kebutuhan dasar bagi warga terdampak, termasuk air bersih, makanan siap saji, dan tenda darurat. Hal ini penting mengingat genangan di beberapa RT cukup tinggi, bahkan mencapai ketinggian 30–50 cm di beberapa titik, sehingga membatasi mobilitas warga dan transportasi lokal.

“Target kami adalah agar genangan dapat surut dengan cepat, namun kami tetap mengimbau masyarakat untuk berhati-hati, waspada terhadap arus air, dan menjaga keselamatan diri serta keluarga,” jelas Yohan.


Latar Belakang Banjir di Jakarta Barat

Jakarta Barat termasuk wilayah yang rawan banjir, terutama di sekitar daerah aliran sungai dan pemukiman padat penduduk seperti Cengkareng, Joglo, dan Kalideres. Beberapa faktor penyebab banjir antara lain:

  • Drainase dan saluran air yang tersumbat oleh sampah dan sedimentasi.

  • Pemukiman padat di bantaran sungai sehingga menyulitkan aliran air saat hujan deras.

  • Curah hujan ekstrem akibat fenomena La Nina yang menyebabkan intensitas hujan meningkat signifikan.

  • Tata ruang yang belum sepenuhnya tertata, sehingga air limpasan sulit mengalir ke sungai utama.

BPBD DKI Jakarta mencatat bahwa banjir di wilayah ini sering terjadi pada musim hujan dan biasanya membutuhkan waktu 6–12 jam agar genangan surut, tergantung tinggi rendahnya curah hujan serta kesiapan pompa air.


Dampak Sosial dan Ekonomi

Genangan yang terjadi di sembilan RT ini mempengaruhi aktivitas warga, termasuk:

  • Mobilitas warga terhambat karena akses jalan terendam.

  • Transportasi publik seperti angkutan mikro dan ojek online terganggu.

  • Aktivitas ekonomi kecil seperti pedagang kaki lima dan warung terhenti sementara.

  • Sekolah dan layanan publik di beberapa titik sempat terganggu karena genangan air masuk ke lingkungan sekolah.

BPBD menghimbau masyarakat agar selalu menyiapkan paket darurat, termasuk air minum, senter, obat-obatan, serta dokumen penting dalam kantong tahan air. Selain itu, warga diminta untuk menghindari arus air deras yang bisa membahayakan keselamatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.


Langkah Antisipatif dan Pencegahan Banjir

Pemerintah DKI Jakarta terus melakukan langkah-langkah antisipatif untuk meminimalkan dampak banjir di Jakarta Barat, di antaranya:

  1. Normalisasi Sungai dan Kali – pengerukan endapan lumpur, perbaikan tanggul, serta penguatan bantaran sungai.

  2. Revitalisasi Drainase – penggantian saluran tersumbat dan pembangunan saluran baru untuk memperlancar aliran air.

  3. Kampanye Bersih Sungai dan Lingkungan – edukasi kepada warga agar tidak membuang sampah sembarangan.

  4. Sistem Peringatan Dini Banjir – integrasi data curah hujan dan level sungai melalui aplikasi digital yang bisa diakses masyarakat.

  5. Pembangunan Pompa Air Permanen – di titik-titik rawan genangan, seperti Cengkareng, Joglo, dan Kalideres.

BPBD berharap kolaborasi antara pemerintah, warga, dan tokoh masyarakat dapat menekan risiko banjir sekaligus membangun kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.


Pesan Penutup

Banjir di sembilan RT Jakarta Barat pada 18 November 2025 menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan dan kewaspadaan adalah kunci menghadapi cuaca ekstrem. Masyarakat diminta untuk tetap waspada, memantau informasi dari BPBD, serta mengutamakan keselamatan diri dan keluarga.

Mohamad Yohan menegaskan:

“Banjir bukan sekadar masalah air, tetapi juga masalah keselamatan, kesehatan, dan ekonomi warga. Dengan koordinasi, kewaspadaan, dan kerja sama, kita bisa menghadapi setiap musim hujan dengan lebih siap.”

Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah dan warga Jakarta Barat bahwa perencanaan tata ruang, pengelolaan sungai, dan kebersihan lingkungan harus terus ditingkatkan agar bencana banjir tidak selalu menjadi ancaman tahunan yang menimbulkan kerugian materiil dan sosial.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.